Minggu, 05 Mei 2013

TUGAS OBSERVASI DAN PENGAJARAN




            1. Nama Kelompok   
           Sastri Dalila                ( 101301002 ) 

 2.  Tema : Go Green 
Alasan memilih tema Go Green 
Dengan  diperkenalkannya bunga plastik dari barang bekas, maka manfaat yang akan diperoleh si anak  adalah pentingnya keindahan. Karena sudah jelas bahwa keindahan tersebut sangat penting bagi kehidupan.  Semua orang butuh keindahan dan untuk mencapai keindahan diperlukan jiwa yang peduli akan lingkungan dan terampil dalam melestarikan lingkungan.  

3. Simpulan Hasil Observasi 

a.  Observasi Pengajar :

 Mufti ke Sastri
Sastri cukup baik dalam mengajarkan cara membuat bunga dari pelastik. Terlihat dari gesture nya yang sesuai. Kontak mata yang ditampilkan juga seluruhnya kepada anak - anak. Posture duduk bersila dan berhadapan dengan adik - adik. Wajah tersenyum dan sesekali tertawa. Halini bertujuan supaya tidak ada jarak dan menimbulkan suasana yang hangat dan bersahabat.

 Sastri ke Mufti.
Pada saat memperkenalkan diri sendiri dan rekan Mufti bicara sangat baik dan jelas, instruksi  yang diberikan kepada adik - adik pun cukup jelas. Kontak mata dan gesture secara keseluruhan bagus. Namun ketika berbicara dia agak cepat. Instruksi yang diberikan cukup jelas dan dimengerti oleh anak - anak. Wajah tersenyum dan sesekali bercanda kepada adik - adik. Jarak duduk antara Mufti dan adik - adik tidak terlalu jauh. Hal ini bertujuan agar antara Mufti ke adik - adik tidak ada jarak dan supaya mereka berasumsi bahwa orang dewasa juga bisa dijadikan teman ataupun sahabat. Agar suasana menjadi lebih akrab dan tanpa perbedaan.

b.  Observasi Peserta didik :

1. Ade usia 8 tahun : Ade pada saat pertama kali berkenalan sikapnya malu - malu. Padahal saya sudah kenal sebelumnya. Kemudian pada saat datang ke lokasi, dia tampak tidak sabar.  Pada saat mendengarkan instruksi dia tersenyum tipis dan terdiam mendengarkan. Posture duduknya menyamping dan tangan memegang tas. Pada saat mengerjakan bunga dari plastik pun, dia selalu tertawa dan banyak tanya. Dia sangat bingung pada saat melipat, tapi Sastri fokus untuk membantunya. Hasil yang dihasilkan pun lumayan bagus. Dia selalu melihat Sastri. Dia senang berbisik - bisik kepada Mirza disebelahnya sambil melihat pengajar dan tersenyum. Dia senang sekali bermain ditengah- tengah pembelajaran, sementara adik - adik yang lain itu tampak sungguh - sungguh mengerjakan sedangkan Ade selalu santai.

2. Dini usia 10 tahun :  Dini pertama datang ke lokasi sikapnya santai. Pada saat mendengarkan instruksi, posture  tubuhnya tegak dan kontak mata nya lurus ke arah pengajar. Dia tampak sungguh - sungguh mendengarkan. Dia juga sering bertanya. Dini, anaknya kritis sekali. Selalu bertanya apa yang kurang jelas sebelum mengerjakan tugasnya. Dia  adalah anak yang cepat sekali mengerti cara membuat bunga dari plastik dan dia anak yang sigap. Terbukti dari caranya melipat, menggunting dan membakar pola dari bunga plastik itu sangat rapi dan baik. Gesture nya sangat cepat dan dia anak yang tidak banyak bicara, dia  yang paling fokus diantara anak - anak yang lainnya.


3. Mirza usia 10 tahun :  Mirza pada saat berkenalan sikapnya agak kalem. Dia tipe anak yg suka tersenyum dan ceria. Dia tidak malu - malu pada saat berkenalan. Dia sangat hangat dalam berjabat tangan. Mirza pertama datang ke lokasi, tersenyum dan sangat ingin tahu. Dia sangat easy going dan ramah. Pada saat mendengarkan instruksi dia lebih sering tersenyum dengan posisi kepalanya sesekali lurus kedepan dan tunduk kebawah. Posture duduknya bersila. Dan pada saat mengerjakan, dia juga tampak santai namun serius. Pada saat pengajar mengajari membuat lipatan, kontak matanya terbuka lebar, seperti tersimpan rasa ingin tahu yang besar.   

4. Audi usia 9 tahun : Pada saat berkenalan, Audi anaknya baik dan tidak banyak bicara. Tidak segan - segan berjabat tangan dengan senyuman. Pada saat datang ke lokasi, Audi sangat gembira. Kemudian saat pengajar memberikan instruksi, Audi tampak mendengarkan dengan seksama. Postur duduknya bersila seperti Mirza dan Dini, namun posisi kepala tegak dan ringan. Gesture nya rileks dan  tidak kaku. Pada saat melipat dia agak terlihat kebingungan, namun ia tidak segan bertanya kepada pengajar. Dia sangat sigap ketika menggunting dan dia sangat ceria ketika tugasnya selesai. 

5. Ira usia 10 tahun : Pada saat berkenalan tersungging senyum kecil di bibirnya. Dia sangat pendiam. Dia jarang sekali berbicara, dan kontak mata ketika mendengarkan instruksi  pun ke kanan dan ke kiri. Dia bukan malu - malu. Tpi sepertinya dia memang anak yang kalem dan tidak banyak bicara. Pada saat mengerjakan dia tampak serius dan tersenyum pada teman di sebelahnya Dini dan Audi. Gerakan tangannya juga tidak terlalu lambat. Dia lebih suka bertanya kepada teman di sebelahnya. Tapi ketika temannya juga terlihat bingung, Ira memberanikan diri untuk bertanya kepada pengajar. Akhirnya kami pun membantunya ketika ia terlihat cemas dan bingung ketika membakar pola lipatan tadi. Alhasil ia lega dan tersenyum ketika tugasnya selesai dan ia merasa puas.


4. Perencanaan 
a. Pendahuluan
Mengajar merupakan seni dan ilmu menstransformasikan bahan ajar kepada peserta  didik pada situasi dengan menggunakan media tertentu. Dalam mengajar  harus  menyusun rencana pembelajaran merupakan salah satu tugas penting pengajar  dalam proses pembelajaran berlangsung dengan lancar dan peserta didik mudah memahami pembelajaran. Dalam mengajar harus menggunakan prinsip pedagogi  agar peserta didik tidak merasa bosan dan termotivasi dalam belajar. Anak-anak lebih mudah menerima pembelajaran yang diberikan karena memiliki keingintahuan yang tinggi dan  masih memiliki daya ingat yang lebih tinggi. Oleh karena itu pembelajaran seperti keindahan sangat penting dipupuk dari usia dini agar terbawa dan terbiasa dengan sifat kebersihan yang dapat menghasilkan keindahan, dengan keindahan dapat meningkatkan kesehatan dan kemakmuran masyarakat. 
Di zaman modern ini masih banyak sekali orang yang kurang sadar terhadap keindahan, mulai dari anak-anak dan orang tua masih banyak membuang sampah sembarangan. Salah satu cara menciptakan keindahan adalah dengan memanfaatkan barang bekas sebagai keindahan dan dapat juga menjadi sumber penghasilan dengan keahlian dan kreativitas seseorang. Ketika keindahan telah terpupuk sejak dini maka hal seperti sekarang ini tidak akan terulang lagi seperti sampah  yang berserakan dimana-mana termasuk dipinggir jalan, karena anak-anak telah sadar akan keindahan itu sendiri dan akan terbawa sampai tua nanti. 

b. Landasan teori 
Banyak orang yang mengatakan mengajar adalah ilmu, dimana kegiatan mengajar harus bebasis dan   dipandu oleh ilmu. Konsep ini menekankan pada aspek ilmiah dalam kegiatan pengajaran dan berfokus pada cara-cara melakukan sistematisasi komunikasi antara guru dan siswa. Konsep ini percaya bahwa adalah mungkin untuk secara sistematis memilih bahan, mengatur interaksi guru dengan siswa, interaksi antar sesama siswa, dan menentukan bahan-bahan yang harus dipelajari oleh siswa, sehingga mengurangi kemungkinan kegiatan pembelajaran terjadi secara kebetulan.
Banyak orang juga percaya mengajar adalah seni. Konsep ini memposisikan mengajar sebagai aktivitas “ilmiah” memang dapat diformalkan, namun jika dipaksakan, akan terjadi birokratisasi dan pemaksaan aktivitas belajar. Penganut konsep ini berpendapat bahwa mengajar sebenarnya merupakan intuisi, improvisasi, dan ekspesi. Guru harus mampu melakukan dan menangani proses kreatif secara tidak terduga di dalam kelas. Dalam kegiatan mengajar, tidak ada resep gagal-aman secara rutinitas. Aktivitas yang paling penting dari kegiatan mengajar adalah mengelola peristiwa-peristiwa yang terjadi selama proses pembelajaran itu. Intinya, setiap guru harus siap menerima semua perilaku anak-anak dalam kelas, karena anak-anak pada umumnya berperilaku secara spontan. 
Alasan Murid Usia 8 sampai 10  thn   : Berdasarkan teori yang kami baca ( periode perkembangan anak terletak pada usia 6-11 tahun ( Middle and Late Chilhood ) terkadang disebut sebagai masa sekolah dasar. Alasan  kami memilih usia ini dikarenakan pada usia ini anak mulai menguasai keahlian membaca, menulis, menghitung dan membuat sesuatu ketrampilan yang baru. Kemudian menurut teori Piaget, anak pad usia 6-11 tahun ini berasda pada tahap operasional konkret  dan secara signifikan perkembangan kognitifnya mulai muncul dan terlihat. Dimana ada tanda- tanda seperti adanya penalaran logika, menggantikan penalaran intuitif ,tetapi dalam situasi yang konkret. Kemampuan untuk menggolong-golongkan sudah ada, tetapi belum bisa memecahkan problem-problem abstrak. Dalam tahap ini si anak juga sudah mampu membayangkan membuat sesuatu walaupun masih dalam keadaan yang abstrak. Nah pada saat kami mengajarkan suatu ketrampilan baru pada si anak dengan cara memberi tahu bagaimana langkah- langkah membuat bunga dari plastik ini, dia akan berusaha untuk mengeluarkan proses penalarannya dengan cara mengkoordinasikan informansi dari dimensi yang diistruksikan oleh guru. Pada tahap operasional konkret, hal terpenting adalah memahami keterkaitanataupun hubungan antara satu langkah yang diajarkan guru dengan langkah selanjutnya. Hal ini akan mendorong anak untuk mengubungkan informasi yang diperoleh dari guru dengan tugasnya membuat langkah- langkah ketrampilan seni yang diajarkan. ( Santrock, J.W& Halonen, J.S (2002). Educational Psychology 

c. Tujuan Pembelajaran  
a.  Untuk melatih agar anak-anak tidak membuang sampah sembarangan 
b.   Memiliki kebiasaan untuk menjaga kebersihan 
c.    Memahami bahwa keindahan itu penting 
d.    Memahami bahwa barang-barang bekas (sampah) dapat diolah menjadi sesuatu yang berguna 
e.     Meningkatkan kreativitas 

 Subjek ada 5 orang berusia :
  1.   Ade     : 8 tahun    ( kelas III)
  2.  Dini      : 10 tahun  ( kelas VI)
  3.   Mirza   : 10 tahun  ( kelas VI)
  4.  Audi     : 9 tahun    ( kelas V) 
  5.  Ira        : 10 tahun  ( kelas VI) 
 
  d. Lokasi
    Taman Bermain Jln Sisimangaraja Pematangsiantar.

e.  Alokasi waktu                       
          2 jam  dari pukul 14.00 sampai 16.00 WIB 
        
f.     Perlengkapan/ alat bantu    
         7 buah kantong plastik warna
         1 Ranting kayu yang patah
         Gunting
         Lem bakar  & Lilin
               
      g.    Perincian biaya                       
     7 buah kantong plastik warna       : Rp. 0                        
1 Ranting kayu yang patah            : Rp. 0                         
     Gunting                                        : Rp. 0
Lem bakar                                  : Rp. 5000
Lilin                                             : Rp. 3000
Reward                                       : Rp. 17.800
Total                                            : Rp. 25.800

     5. Pelaksanaan
  Lokasi            : Taman Bermain Sisimangaraja Pematangsiantar
       Waktu             : Jumat 29 April 2013 pukul 14:00-16:00 WIB
       Kegiatan
·               14.00               : Datang ke lokasi
·              14:30-14.45     : Perkenalan
·              14:45-15:00     : Mengajar membuat pola berupa cara melipat plastik
·              15:00-:15.15    : Mengajar cara menggunting  poa lipatan plastik
·              15:15-15:30     : Mengajar cara membakar pola plastic yang sudah digunting
·              15:30-14:00     : Games + Pemberian Reward & Penutup

  6. Laporan Kegiatan (uraian observasi )  
  Hari pertama saya survey tempat di  Taman Bermain jalan Sisimangaraja Pematangsiantar. Hari pertama saya berkenalan dengan adik - adik lalu memberi tahu mereka bahwa saya dan rekan sedang menjalankan tugas. Dimana tugas ini adalah   mengajar adik - adik membuat bunga dari plastik. Saya juga menyuruh mereka membawa bahan - bahan sederhana seperti plastik dan gunting. Saya juga menetapkan lokasi dan menetapkan waktu belajar keesokan hari.
Hari kedua, saya datang ke lokasi dan menunggu anak- anak. Untungnya anak - anak sangat tepat waktu. Setelah makan siang pukul 13.00 mereka istirahat sejenak lalu datang kembali ke lokasi. Mereka membawa alat- alat yang telah diinstruksikan. Pada saat mulai mengajar kami bercerita apa tujuan dan manfaat membuat bunga dari plastik ini dan tampaknya mereka sangat ingin tahu.

  7. Hasil Kegiatan (capaian kegiatan )  
Observasi tercapai dengan maksimal meskipun kami sangat lelah. Kami sudah berusaha keras untuk memaksimalkan potensi anak – anak lewat pengajaran ini. Anak – anak juga sudah memberikan hasil yang sangat baik dan berupaya sangat keras.

  8. Evaluasi 
Mulai dari perencanaan kami satu kelompok agak sulit menentukan tema apa yang akan kami gunakan untuk mengajar. Pertama kami sepakat membuat boneka dari kulit telur, tetapi agaknya itu amat sulit dan membutuhkan biaya yang cukup besar, akhirnya kami beralih ke rencana micro teaching dengan tema go green. Selain biaya yang dikeluarkan itu cukup minim tapi itu mengajarkan anak untuk hemat tanpa perlu meminta dari orang tua. Kendala yang kami alami adalah kami sangat kerepotan dalam mengobservasi satu sama lain dikarenakan jumlah kelompok kami yang hanya berdua. Dimana kami sulit sekali untuk melakukan pengajaran sekaligus dengan observasi teman satu sama lain, merekam video. Itulah alasan mengapa kami sampai membutuhkan waktu sampai 2 jam. Tapi jika kami satu kelompok lebih dari dua orang maka pembagian masing - masing tugas akan terasa lebih ringan dan mudah. Kemudahannya sendiri adalah kami melihat bahwa anak – anak sangat mudah menangkap dan menyerap informasi yang kami ajarkan. Mereka menciptakan suatu hasil karya yang bagus dan kami merasa puas dengan apa yang kami berikan dan kami lihat.  

 9. Dokumentasi 

 
















 

10. Testimoni 

        Sastri Dalila (10-002)
Awalnya ketika tau ada tugas lapangan untuk mengajar anak-anak senang tapi sekaligus bingung karena belum pernah mengajar anak-anak, ada rasa takut juga, takut anak-anak yang diajar merasa bosan atau tidak senang dengan apa yang akan diajarkan. Sebelum mengajar anak-anak tersebut, kami terlebih dahulu membuat perencanaan agar dalam mengajar nanti dapat berjalan dengan baik dan anak-anak yang diajarkan mudah dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Setelah terjun kelapangan ternyata anak-anak yang kami ajarkan sangat ramah, memperhatikan dengan baik, mereka terlihat sangat senang sekali ketika pembelajaran berlangsung, mereka sangat antusias dalam belajar, ternyata Ketakutan awal saya tidak sama dengan apa yang terjadi dilapangan. Ternyata belajar dengan anak-anak itu sangat menyenangkan dengan kepolosan mereka dan keingintahuan mereka yang tinggi membuat suasana belajar lebih aktif.     
 
       Mufti Fadhilah  Siregar (10-004)
Pada dasarnya mengajari anak – anak adalah hal yang sulit. Namun apabila kita sebagai pengajar, dapat menyesuaikan diri dengan mereka maka hal ini akan terasa mudah. J Pada saat bertemu dengan adik- adik saya merasa gembira, karena saya sudah mengenal mereka. 2 diantaranya adalah adik sepupu saya sendiri. Dan 3 lagi adalah teman satu sekolah dan bermain mereka. Mereka tampak tertarik, semangat yang berapi api dan gembira. Itu semua dapat dibuktikan dari sorot mata dan senyum bibir polos mereka, bahwa mereka ingin tahu. Pengajaran kami lakukan hari jumat tanggal 29 Maret 2013, tepatnya jam 3 sore. Tetapi saya sangat bangga karena sebelum pengajaran di mulai anak- anak sudah datang sebelum jam pengajaran dimulai. Tepat pukul 14.00 WIB. Wah terihat sekali semangat keingintahuan meraka. Mengajar memang melelahkan tapi membuat saya pribadi menjadi manusia yang mempunyai nilai untuk diri sendiri. Dalam hati saya berkata: ‘’ bahwa saya bisa berguna memberikan ilmu pada adik - adik yang manis ini’’. Intinya pengalaman ini membuat saya belajar bahwa kebersamaan dengan adik-adik akan menghasilkan kehangatan  kreatifitas. Dan dari kreatifitas lah akan timbul keindahan. 


 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar