Minggu, 27 Oktober 2013

Testimoni berdasarkan Landasan Teori Belajar

Testimoni menurut saya, saya merasa sangat cemas dan panik pada saat mengerjakan soal pertama. Karena saya merasa masih ada beban tanggung jawab untuk menyelesaikan soal - soal yang ibu berikan selanjutnya. Saya sangat khwatir apabila jaringan internet yang sangat lamban mempengaruhi kelangsungan jalannya UTS ini. Namun, kali ini internet menjadi sahabat baik, jarinya cepat dan sangat bersahabat. Saya senang dan lega akhirnya sudah bisa menjawab soal dengan maksimal. Saya sangat berharap saya bisa lulus di mata kuliah psikologi belajar ini dengan nilai yang sangat memuaskan. Testimoni saya ini saya kaitkan dengan teori Vygotsky tadi yang mengatakan bahwa  perkembangan fungsi mental yang kompleks dan unik pada manusia itu akan bertanggung jawab atas perilaku itu sendiri melalui belajar dengan interaksi sosial dengan orang lain di dalam kultur itu sendiri.

Sekian dan thanks for attention :)

Teori Perkembangan Psikologi Kultural Historis Lev S VygotskY

Prinsip Perkembangan Psikologis

Tujuan Vygotsky adalah menciptakan psikologi yang secara teoritis dan metodologist sederajat dengan tugas meneliti karakteristik manusia yang unik.

Asumsi Dasar.

Ada 3 bidang yang membentuk landasan analisis vygotsky terhadap perkembangan kapabilitas menta manusia. Bidang yang dimaksud antara lain:
 
  •   Hakikat kecerdasan manusia
Peneliti lainnya terutama peneliti behavioral subjek penelitian yang sering digunakan akan hewan dan menganggap bahwa hasil penelitian terhadap hewan tersebut akan sama dengan hasil penelitian terhadap manusi secara langsung. Vygotsky menentang hal ini dengan menyatakan bahwa hewan dan manusi tidak dapat disamakan karena tidakan hewan yang terstruktur tidak selalu merupakan tindakan intelektual. Berbeda dengan manusia yang memang berperilaku berdasarkan intelektualnya.


    • Landasan filosofis
    Pandangan Vygotsky dipengaruhi oleh 3 filsuf. Yang pertama Spinoza yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk rasional dan secara bertahap menguasai pikirannya sendiri. Yang kedua adalah Hegel. Materi sebagai dasar eksistensi dianggap merupakan Sesuatu yang absolute dan tidak berubah. Sebaliknya hegel menyatakan bahwa materi selalu dipengaruhi oleh factor lain seperti proses, perubahan atau perkembangan yang terus terjadi. Tekhir adalah Carl Max yang menyatakan bahwa manusia mnciptakan kultur yang beragam dimana alat untuk memandang dunia sebagai objek dan subjek yang bertindak. Alat kerja adalah factor penting dalam mengubah sifat manusia
     
    • .        Konsep “perangkat psikologis”
    Terdapat masalah pandangan tentang alat sebagai instrument penelitian. Dalam hal ini vygotsky menyatakan bahwa alat yang dimaksud adalah tanda dan symbol. Alat psikologis ini melahirkan transformasi kesadaran manusia yang menjadi alat untuk mengarahkan pikiran dan mengubah proses berpikir manusia
     
    Teori Belajar Vygotsky
     
    Pandangan yang mampu mengakomodasi sociocultural-revolution dalam teori belajar dan pembelajaran dikemukakan oleh Lev Vygotsky. Ia mengatakan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Artinya, untuk memahami pikiran seseorang bukan dengan cara menelusuri apa yang ada di balik otaknya dan pada kedalaman jiwanya, melainkan dari asal-usul tindakan sadarnya, dari interaksi sosial yang dilatari oleh sejarah hidupnya (Moll & Greenberg, 1990). Peningkatan fungsi-fungsi mental seseorang berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya, dan bukan dari individu itu sendiri. Interaksi sosial demikian antara lain berkaitan erat dengan aktivitas-aktivitas dan bahasa yang dipergunakan. Kunci utama untuk memahami proses-proses sosial dan psikologis manusia adalah tanda-tanda atau lambang yang berfungsi sebagai mediator (Wertsch, 1990). Tanda-tanda atau lambang tersebut merupakan produk dari lingkungan sosio-kultural  di mana seseorang berada.
    Mekanisme teori yang digunakannya untuk menspesifikasi hubungan antara pendekatan sosio-kultural  dan pemfungsian mental didasarkan pada tema mediasi semiotik, yang artinya adalah tanda-tanda atau lambang-lambang beserta makna yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penengah antara rasionalitas dalam pendekatan sosio-kultural dan manusia sebagai tempat berlangsungnya proses mental (Moll, 1994).
    Atas dasar pemikiran Vygotsky, Moll dan Greenberg (dalam Moll, 1994) melakukan studi etnografi dan menemukan adanya jaringan-jaringan erat, luas, dan kompleks di dalam dan di antara keluarga-keluarga. Jaringan-jaringan tersebut berkembang atas dasar confianza yang membentuk kondisi sosial sebagai tempat penyebaran dan pertukaran pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai sosial budaya. Anak-anak memperoleh berbagai pengetahuan dan ketrampilan melalui interaksi sosial sehari-hari. Mereka terlibat secara aktif dalam interaksi sosial dalam keluarga untuk memperoleh dan juga menyebarkan pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki. Ada suatu kerja sama di antara anggota keluarga dalam interaksi tersebut.
    Menurut Vygotsky, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut dengan teori sociogenesis. Dimensi kesadaran sosial bersifat primer, sedangkan dimensi individualnya bersifat derivatif atau merupakan turunan dan besifat skunder (Palincsar, Wertsch & Tulviste, dalam Supratiknya, 2002). Artinya, pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial di luar dirinya. Hal ini tidak berarti bahwa individu bersikap pasif dalam perkembangan kognitifnya, tetapi Vygotsky juga menekankan pentingnya peran aktif seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Maka teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut dengan pendekatan kokonstruktivisme. Maksudnya, perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga oleh lingkungan sosial yang aktif pula.
    Konsep-konsep penting teori sosiogenesis Vygotsky tentang perkembangan kognitif yang sesuai dengan revolusi-sosiokultural dalam teori belajar dan pembelajaran adalah hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development), zona perkembangan proksimal (zone of proximal development), dan mediasi.
    • Hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development)
    Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua tataran, yaitu tataran sosial tempat orang-orang membentuk lingkungan sosialnya (dapat dikategorikan sebagai interpsikologis atau intermental), dan tataran psikologis di dalam diri orang yang bersangkutan (dapat dikategorikan sebagai intrapsikologis atau intramental). Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan  konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang. Dikatakannya bahwa fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi dalam diri seseorang akan muncul dan berasal dari kehidupan sosialnya. Sementara itu fungsi intramental dipandang sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut.
    Pada mulanya anak berpartisipasi dalam kegiatan sosial tertentu tanpa memahami maknanya. Pemaknaan atau konstruksi pengetahuan baru muncul atau terjadi melalui proses internalisasi. Namun internalisasi yang dimaksud oleh Vygotsky bersifat transformatif, yaitu mampu memunculkan perubahan dan perkembangan yang tidak sekedar berupa transfer atau pengalihan. Maka belajar dan berkembang merupakan satu kesatuan dan saling menentukan.

    • Zona perkembangan proksimal (zone of proximal development)
    Vygotsky juga mengemukakan konsepnya tentang Zona perkembangan proksimal (zone of proximal development). Menurutnya, perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua tingkat, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri. Ini disebut sebagai kemampuan intramental. Sedangkan tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Ini disebut sebagai kemampuan intermental. Jarak antara keduanya, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial ini disebut zona perkembangan proksimal.
    Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada pada proses pematangan. Ibaratnya sebagai embrio, kuncup atau bunga, yang belum menjadi buah. Tunas-tunas perkembangan ini akan menjadi matang melalui interaksinya dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Untuk menafsirkan konsep zona perkembangan proksimal ini dengan menggunakan scaffolding interpretation, yaitu memandang zona perkembangan proksimal sebagai perancah, sejenis wilayah penyangga atau batu loncatan untuk mencapai taraf perkembangan yang semakin tinggi.
    Gagasan Vygotsky tentang zona perkembangan proksimal ini mendasari perkembangan teori belajar dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. Beberapa konsep kunci yang perlu dicatat adalah bahwa perkembangan dan belajar bersifat interdependen atau saling terkait, perkembangan kemampuan seseorang bersifat context dependent atau tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, dan sebagai bentuk fundamental dalam belajar adalah partisipasi dalam kegiatan sosial.
    Berpijak pada konsep zona perkembangan proksimal, maka sebelum terjadi internalisasi dalam diri anak, atau sebelum kemampuan intramental terbentuk, anak perlu dibantu dalam proses belajarnya. Orang dewasa dan/atau teman sebaya yang lebih kompeten perlu membantu dengan berbagai cara seperti memberikan contoh, memberikan feedback, menarik kesimpulan, dan sebagainya dalam rangka perkembangan kemampuannya.
    • Mediasi.
    Menurut Vygotsky, kunci utama untuk memahami proses-proses sosial dan psikologis adalah tanda-tanda atau lambang-lambang yang berfungsi sebagai mediator. Tanda-tanda atau lambang-lambang tersebut merupakan produk  dari lingkungan sosio-kultural di mana seseorang berada. Semua perbuatan atau proses psikologis yang khas manusiawi dimediasikan dengan psychological tools atau alat-alat psikologis berupa bahasa, tanda dan lambang, atau semiotika.
    Dalam kegiatan pembelajaran, anak dibimbing oleh orang dewasa atau oleh teman sebaya yang lebih kompeten untuk memahami alat-alat semiotik ini. Anak mengalami proses internalisasi yang selanjutnya alat-alat ini berfungsi sebagai mediator bagi proses-proses psikologis lebih lanjut dalam diri anak.   Mekanisme hubungan antara pendekatan sosio-kultural dan fungsi-fungsi mental didasari oleh tema mediasi semiotik, artinya tanda-tanda atau lambang-lambang beserta makna yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penghubung antara rasionalitas sosio-kultural (intermental) dengan individu sebagai tempat berlangsungnya proses mental (intramental) (Wertsch, 1990). Ada beberapa elemen yang dikemukakan oleh Bakhtin untuk memperluas pendapat Vygotsky. Elemen-elemen tersebut terdiri dari ucapan, bunyi suara, tipe percakapan sosial dan dialog, di mana secara kontekstual elemen-elemen tersebut berada dalam batasan sejarah, kelembagaan, budaya dan faktor-faktor individu.


    APLIKASI PENDIDIKAN
     
          Dua program untuk mengajari membaca bagi pembaca yang lemah merefleksikan konsep Vygotsky tentang kolaborasi siswa,guru, pemodelan guru dan imitasi, serta abstraksi makna dari simbol. Yang pertama adalah Reading Recovery, yang didesain oleh Marie Clay (1985) untuk anak kelas satu yang belum menguasai proses membaca di kelas reguler. Yang lainnya adalah pengajaran resiprokal, yang dikembangkan oleh Palinscar Brown untuk mengajar strategi pemahaman pada anak yang memiliki  masalah membaca. Anak belajar menilai secara subjektif yang artinya penting untuk memantau apakah mereka sudah memahami teks atau belum. 
          Prinsip Vygotsky setidaknya mengandung dua implikasi penting lainnya. Pertama, makna lambang dan simbol yang digunakan dalam kultur bukan kebetulan. Kedua, teori ini juga memandang masyarakat secara umum sebagai kultur yang berusaha memahami implikasi dari masyarakat berbasi media. Teori ini membuktikan latar sosiokultural dimana anak belajar dari orang dewasa sebagai asal muasal perkembangan kognitif dan belajar. Karena itu, karakteristik pemelajar, proses kognitif dan konteks untuk belajar semuanya dilihat dari persfektif tersebut.
          Perbedaan dan kesiapan individual adalah dua isu yang dibahas Vygotsky dalam teorinya, cara individu menggunakan kapasitasnya, yakni peran mereka dalam personalitas, merupakan faktor penting dalam menentukan perbedaan individual. Vygotsky juga percaya bahwa perasaan subjektif mengatur perilaku, tetapi mekanisme regulasi ini belum dikembangkan.
          Maka, "transfer" menurut pandangan Vygotsky adalah pergeseran kualitatif antara tindakan antar-individual dan internalisasi tindakan itu sebagai fungsi intelektual yang kompleks. Proses panjang ini terdiri dari tiga tahap utama, yaitu :
    1. Penggunaan sistem simbol sebagai komunikasi
    2. Penggunaan sistem simbol untuk memandu proses mental yang sedang berkembang
    3. Pengembagan petunjuk atau isyarat internak dan lambang untuk memonitor dan mengatur ingatan dan pemikiran seseorang.  
    sumberGredler, Margaret.E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana

    Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget

    Prinsip Perkembangan Kognitif

    Fokus teori Jean Piaget adalah menemukan karakteristik logika alamiah, yang terdiri dari proses penalaran yang dibangun oleh individu yang berkembang sesuai dengan fase perkembangan kognitif. tujuan lainnya adalah  menemukan transformasinya sari satu bentuk penalaran ke penalaran lainnya. transformasi ini tergantung pada empat faktor yaitu, lingkungan, kematangan, pengaruh sosial dan proses ekulibrasi (mempertahankan fungsi kecerdasan ketika melakukan transformasi besar).

    Asumsi Dasar

    Asumsi dasarnya adalah hakikat konstruksivis dari kecerdasan dan faktor-faktor esensial dalam perkambangan kognitif.
     
    1. Sumber Filsafat : hakikat pengetahuan adalah mengetahui dan ia adalah sebuah proses yang diciptakan melalui aktivitas pemelajar. pengetahuan berasal dari pengalaman.
    2. Suber biologi: hakikat kecerdasan manusia adalah bahwa kecerdasan manusia dan organisme berfungsi serupa dimana keduanya adalah sistem terorganisasi yang secara konstran berinteraksi dan beradabtasi dengan lingkungan.
    3. Sumber Psikologi : metode investigasi yang tepat adalah dengan menggunakan observasi dan eksperimentasi.

    Perspektif Kognitif Part II : Metakognisi dan Pemecahan Masalah

    Komponen Metakognisi

    Secara umum metakognisi dapat diartikan sebagai berpikir tentang pemikiran. Beberapa perspektif menekankan pengetahuan individual tentang kognisidan penggunaan strategi. Komponen utama dari metakognisi adalah :
    1. Pengetahuan dan kesadaran tentang pemikiran diri sendiri
    2. Pengetahuan tentang kapan dan dimana mesti mengggunakan strategi yang diperoleh
    Pengetahuan tentang pemikiran seseorang mencakup informasi tentang kapasitas dan keterbatasan dirinya sendiri. dan kesadaran akan kesulitan selama belajar sehingga dapat dilakukan perbaikan. Misalnya, terkadang siswa tidak menyadari bahwa suatu teks itu sulit dimana mereka tidak memiliki banyak pengetahuan pendukung seharusnya dibaca secara berbeda dari teks dengan topik yang sudah terbiasa.

    Perkembangan Metakognitif
     
    Perkembangan dalam psikologi bidang pendidikan berjalan sangat pesat, salah satunya adalah perkembangan konsep metakognisi (metacognition) yang pada intinya menggali pemikiran orang tentang berpikir ”thinking about thinking”. Konsep dari metakognisi adalah ide dari berpikir tentang pikiran pada diri sendiri. Termasuk kesadaran tentang apa yang diketahui seseorang (pengetahuan metakognitif), apa yang dapat dilakukan seseorang (keterampilan metakognitif) dan apa yang diketahui seseorang tentang kemampuan kognitif dirinya sendiri (pengalaman metakognitif).
    Variabel lain yang terkait dengan metakognisi adalah variabel individu. Sebagai modal dasar untuk menjadi seorang pebelajar mandiri (self-learner) yang baik, siswa harus memiliki pengetahuan tentang kelemahan dan kelebihan dirinya dalam menghadapi tugas-tugas kognitif, yang menurut Anderson & Krathwohl (2001) disebut pengetahuan-diri (self-knowledge). Bahkan lebih jauh siswa harus mampu memilih, menggunakan, dan memonitor strategi-strategi kognitif yang cocok dengan tipe belajar, gaya berpikir, dan gaya kognitif yang dimiliki dalam mengahadapi tugas-tugas kognitif. Misalnya, seseorang dengan tipe belajar visual harus sering menggunakan strategi elaborasi peta konsep dalam memahami materi yang sedang dipelajari. Kemampuan seperti ini merupakan salah satu komponen metakognisi yang disebut pemonitoran kognitif.
    Strategi Perkembangan Metakognitif
    Blakey & Spence (1990) mengemukakan strategi-startegi atau langkah-langkah untuk meningkatkan keterampilan metakognisi, yakni: 
    •   Mengidentifikasi “apa yang kau ketahui” dan “apa yang kau tidak ketahui
    Memulai aktivitas pengamatan, siswa perlu membuat keputusan yang disadari tentang pengetahuan mereka. Dengan menyelidiki suatu topik, siswa akan menverifikasi, mengklarivikasi dan mengembangkan, atau mengubah pernyataan awal mereka dengan informasi yang akurat. 
    •   Berbicara tentang berpikir (Talking about thinking) 
    Selama membuat perencanaan dan memecahkan masalah, guru boleh “menyuarakan pikiran”, sehingga siswa dapat ikut mendemonstrasikan proses berpikir. Pemecahan masalah berpasangan merupakan strategi lain yang berguna pada langkah ini. Seorang siswa membicarakan sebuah masalah, mendeskripsikan proses berpikirnya, sedangkan pasangannya mendengarkan dan bertanya untuk membantu mengklarifikasi proses berpikir. 
    • Membuat jurnal berpikir (keeping thinking journal) 
    Cara lain untuk mengembangkan metakognisi adalah melalui penggunaan jurnal atau catatan belajar. Jurnal ini berupa buku harian dimana setiap siswa merefleksi berpikir mereka, membuat catatan tentang kesadaran mereka terhadap kedwiartian (ambiguities) dan ketidakkonsistenan, dan komentar tentang bagaimana mereka berurusan/menghadapi kesulitan.
    •  Membuat perencanaan dan regulasi-diri
    Siswa harus mulai bekerja meningkatkan responsibilitas untuk merencanakan dan meregulasi belajar mereka. Sulit bagi pebelajar menjadi orang yang mampu mengatur diri sendiri (self-directed) ketika belajar direncanakan dan dimonitori oleh orang lain.
    • Melaporkan kembali proses berpikir (Debriefing thinking process)
    Aktivitas terakhir adalah menfokuskan diskusi siswa pada proses berpikir untuk mengembangkan kesadaran tentang strategi-strategi yang dapat diaplikasikan pada situasi belajar yang lain. Metode tiga langkah dapat digunakan; Pertama: guru mengarahkan siswa untuk mereviu aktivitas, mengumpulkan data tentang proses berpikir; Kedua: kelompok mengklasifikasi ide-ide yang terkait, mengindentifikasi strategi yang digunakan; Ketiga: mereka mengevaluasi keberhasilan, membuang strategi-strategi yang tidak tepat, mengindentifikasi strategi yang dapat digunakan kemudian, dan mencari pendekatan alternatif yang menjanjikan. 
    •   Evaluasi-diri (Self-evaluation)
     Mengarahkan pengalaman-pengalaman evaluasi-diri dapat diawali melalui pertemuan individual dan daftar-daftar yang berfokus pada proses berpikir. Secara bertahap, evaluasi-diri akan lebih banyak diaplikasikan secara independen.
    Dalam penelitian ini model yang dikembangkan sebagai model pelatihan dan pembinaan guru sains, dengan mengadaptasi konsep metakognitif Marzano dengan meliputi 3 (tiga) tahapan strategi sebagai berikut:
    1.      Tahap proses sadar belajar (awareness), merupakan komponen yang paling dasar dari metakognisi. Kewaspadaan ini termasuk dua cara apakah siswa biasanya melakukan pendekatan pada tugas dan cara alternatif yang mungkin mereka lakukan. Pelajar yang baik waspada akan bagaimana mereka berpikir dan dapat membuat pilihan yang cerdas megenai strategi yang efektif.meliputi proses untuk menetapkan tujuan belajar, mempertimbangkan sumber belajar yang akan dan dapat diakses (contoh: menggunakan buku teks, mencari buku sumber di perpustakaan, mengakses internet di lab. komputer, atau belajar di tempat sunyi), menentukan bagaimana kinerja terbaik siswa akan dievaluasi, mempertimbangkan tingkat motivasi belajar, menentukan tingkat kesulitan belajar siswa.
    • .      Tahap merencanakan belajar (Planning), merupakan komponen rencana dari metakognisi adalah bertanggung jawab untuk “mengidentifikasi dan mengaktifkan kemampuan, taktik, dan proses tertentu yang akan digunakan dalam “mencapai cita-cita” (Marzano, 1998, h. 60). Siswa pada tahap ini memiliki dialog dalam dirinya mengenai apa yang dapat ia lakukan dan apa yang paling efektif dalam situasi ini. Jika tugasnya sederhana, orang mungkin tidak waspada akan pilihan apa yang ia buat. Dengan tugas yang kompleks, bagaimana pun, proses metakognitif lebih terbuka saat siswa memilih pilihan yang lain di dalam pikirannyameliputi proses memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas belajar, merencanakan waktu belajar dalam bentuk jadwal serta menentukan skala prioritas dalam belajar, mengorganisasikan materi pelajaran, mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk belajar dengan menggunakan berbagai strategi belajar (outlining, mind mapping, speed reading, dan strategi belajar lainnya).
    • .      Tahap monitoring dan refleksi belajar (monitoring and reflection), merupakan komponen akhir dari metakognisi adalah pemantauan. Fungsi ini bekerja pada keefektifan rencana dan strategi yang digunakan. Sebagai contoh, siswa kelas biologi tahun kedua memutuskan untuk membuat peta dalam komputer untuk meninjau bab untuk sebuah tes. Setelah beberapa menit, ia menyadari bahwa ia menghabiskan waktu yang lebih mencari tahu tentang software daripada berpikir mengenai konten dan memutuskan untuk menggambar peta di atas kertas. Seorang siswa kelas lima yang mengumpulkan data mengenai temperatur dan kelembaban mulai menambahkan daftar angka yang panjang lalu menyadari bahwa pekerjaan akan menjadi lebih cepat dan akurat jika ia menggunkan program lembar kerja. Pemantauan proses pemikiran yang konsisten dan membuat perubahan yang diperlukan adalah komponenyang penting dari metakognisi. Meliputi proses merefleksikan proses belajar, memantau proses belajar melalui pertanyaan dan tes diri (self-testing, seperti mengajukan pertanyaan, apakah materi ini bermakna dan bermanfaat bagi saya?, bagaimana pengetahuan pada materi ini dapat saya kuasai?, mengapa saya mudah/sukar menguasai materi ini?), menjaga konsentrasi dan motivasi tinggi dalam belajar.

    Pengalaman Diskusi Online PBL

    Pada saat diskusi online saya merasa bahwa saya sangat cemas dan panik dikarenakan jaringan yang sangat lamban dan membuat saya bosan. Akan tetapi pada saat teman dan saya masuk ke grup, rasa panik pun hilang. Saya khirnya join dan bergabung di grup. Kami membahas tentang ketidakaktifan kami dikelas serta penyebabnya dikaitkan dengan teori PBL. Setelah semua hadir, ada satu teman yang tidak hadir dikarenakan jaringan yang pada saat itu tidak bersahabat. Dimana listrik mati hidup mati hidup. Kami semua juga maklum. Ini lah konsekuensi yang harus diterima apabila kami diskusi online.Saya sangat antusias. Begitu juga teman satu kelompok semua terlihat berlomba - lomba memberikan jawaban dan opini nya. Tak terasa ada satu jam lebih kami berdiskusi. Tiba - tiba jaringan di daerah kos saya mati. Akhirnya dengan sigap saya mengirim sms kepada teman saya untuk memberitahukan bahwa listrik ditempat saya ini mati. Alhasil saya sudah banyak memberikan jawaban dan pendapat dalam forum diskusi ini. Saya sebenarnya sangat cemas dan panik apabila situasi - situasi yang seperti ini kembali muncul. Tetapi semua itu dapat saya lewati. Saya lega dan bersyukur Alloh masih memberi saya kekuatan dan kesabaran... :)

    Perspektif Kognitif Part I : Pemrosesan Informasi

    Prinsip Belajar

    Teori pemrosesan informasi membahas langkah - langkah dasar yang diambil individu untuk memperoleh, menyandikan dan mengingat informasi. Teori belajar ini sangat berbeda dari teori belajar lainnya alasannya adalah : Pertama pemrosesan informasi bukan konseptualisasi dari seorang teoritisi saja. Kedua,  dasar dari teori ini adalah informasi bukan belajar, teori ini tidak dapat menspesifikasikan hasil belajar.

    Asumsi Dasar.

    Dua asumsi pokok yang mendukung riset pemrosesan informasi adalah :
    • Sistem memori adalah pengolah informasi yang aktif dan terorganisasi
    • Pengetahuan yang berperan penting dalam belajar.
    Dasar keyakinan tentang asumsi ini ialah : 
    • Hakikat sistem memori manusia
    • Cara - cara bagaimana butir pengetahuan dilambangkan dalam memori jangka panjang
    • Organisasi pengetahuan dalam memori jangka panjang
    Komponen essensial pemrosesan informasi yang dapat diaplikasikan untuk belajar adalah belajar komponen dan proses persepsi, pengkodean, pengambilan informasi dari jangka panjang ketika diperlukan. Kerangka belajar terdiri dari :

    1. Pengetahuan sebelumnya yang dimiliki si pemelajar baik itu tersembunyi maupun konseptual.
    2.  Sifat dan penataan dari informasi yang akan dipelajari.
    Pengetahuan pemelajar berfungsi sebagai kerangka untuk mengidentifikasi informasi yang datang dan mempengaruhi inferensi pemelajar tentang informasi baru itu. Pengetahuan ekstensif juga dapat memperkuat kapasitas memori pada saat bekerja untuk mengkodekan informasi dalam kelompok besar dan menaikkan kecepatan dalam pemrosesan informasi.

    Komponen Pembelajaran .

    Antara lain :
    • Menstrukturisasi kerangka belajar
    • Memfasilitasi pengkodean informasi
    • Mengajari siswa strategi menkonstruksi makna
    Komponen yatama dalam pembelajaran perspektif pemrosesan informasi adalah memperkaya pengetahuan yang telah dimiliki pemelajar, mengorganisasikan materi yang telah dipelajari, memfasilitasi perhatian pemelajar, mengkodekan dan menstrukuturisasi makna dan mengajari siswa strategi untuk memperkaya pemahaman mereka atas teks dan persentasi oral. Yang essensial adalah fakta bahwa siswa hanya merespons pada pembelajaran yang dapat dia pahami secara aktif. Karena itu pembelajaran harus memfokuskan perhatian pemelajar pada tugas - tugas penting dan secara informal menilai persepsi pemelajar. Salah satu pendekatannya adalah mengimplementasikan aktivitas pra pengajaran yang mengaktifkan pengetahuan sebelumnya dengan konsep utama. Pendekatan lain adalah dengan menggunakan advance organizer . Ini mencakup konsep inklusif yang berfungsi sebagai penghubung antara simpanan informasi siswa  denganbelajar baru. Mereka berfungsi sebagai kerangka konseptual dan juga memfasilitasi pengkodean. Strategi lainnya adalah mengajari siswa untuk menemukan informasi penting dalam teks dan materi lainnya.

    Kondisi Belajar Robbert Gagne

    Ketrampilan, apresiasi dan penalaran manusia dengan semua variasinya dan juga harapan, aspirasi, sikap, dan nilai - nilai manusia, umumnya diakui bah wa perkembangannya sebagian besar bergantung pada peristiwa yang disebut dengan belajar. Tiga prinsip pembelajaran yang dilakukan oleh Gagne dalam analisis tugas pelatihan adalah :
    • Memberikan pembelajaran menganai seperangkat tugas - tugas komponen yang diarahkan untuk membangun tugas - tugas final.
    • Memastikan bahwa setiap tugas komponen dikuasai.
    • Sekuensi tugas komponen untuk memastikan transfer yang optimal ke tugas final.
    1. Keunikan Hakikat Belajar Manusia.
    Elemen penting dalam analisis Gagne adalah kaitan belajar dengan perkembangan, kompleksitas belajar  pada manusia dan masalah khusus dengan pandangan - pandangan sebelumnya.

       2.    Defenisi  Belajar 

    Ketika di defenisikan secara formal, belajar menghasilkan berbagai disposisi yang dipertahankan yang tercermin dalam berbagai macam perilaku yang berbeda. Mereka adalah hasil belajar Gagne yang disebut '' capability'' atau kapabilitas. Menurut Gagne kapabilitas terdiri dari komponen mental ( disposisi yang dipertahankan ) dan komponen ( perilaku kerja ). Kedua kapabilitas diperoleh manusia dari  stimulasi yang diperoleh dilingkungan dan pemrosesan  kognitif yang dilakukan oleh pemelajar yang mengubah stimulasi dari lingkungan menjadi kapabilitas baru.
     
    Kunci untuk pengembangan teori belajar yang komperhensif adalah menjelaskan sifat yang kompleks dari belajar manusia. Pertama, berbeda dengan model - model pertumbuhan kesiapan dimana pendewasaan ( maturation ) mengatur proses belajar, Gagne berpendapat bahwa belajar adalah faktor kausal penting dalam perkembangan. Kedua, belajar bersifat kumulatif. Belajar ketrampilan tertentu akan memberi kontribusi pada belajar ketrampilan yang lebih kompleks. Hasilnya adalah kompetensi intelektual yang terus meningkat. Ketiga belajar manusia adalah kompleks yang beragam. Prosesnya tidak dapat direduksi menjadi asosiasi   S - R atau pengalaman wawasan yang dideskripsikan oleh teori Gestalt. Selain itu, studi belajar tidak boleh terfokus pada pengembangan prinsip yang berlaku hanya pada satu bidang subjek. Deskripsi yang memadai dari belajar manusia harus berlaku untuk berbagai macam aktivitas manusia di beragam latar dan situasi dimana belajar itu terjadi. Belajar juga menghasilkan disposisi yang dipertahankan dan dibuktikan oleh kinerja tertentu. Keluaran dari belajar disebut dengan kapabilitas. Proses belajar adalah proses kognitif yang memproses informasi dilingkungan menjadi berbagai macam kapabilitas.


    Pengkondisian berpenguat Skinner

    PRINSIP - PRINSIP BELAJAR

    Skinner percaya bahwa psikologi dapat menjadi sains hanya melalui studi perilaku. Berbeda dengan Watson, Skinnner mempelajari jenis perilaku yang lain yaitu perilaku yang tidak secara otomatis dipicu oleh stimulus tertentu.

    Asumsi Dasar.

    1. Sifat Ilmu Behavioural

    Tugas untuk ilmu perilaku adalah menemukan hukum atau kaidah fungsional diantara kondisi fisik atau lingkungan. Tugasnya menemukan perubahan dimana variabel bebas / independen menimbulkan perubahan dalam variabel terikat / dependen. Misalnya apa kondisi yang menyebabkan seorang siswa senang mengerjakan tugas akademik dan apa yang menyebabkan siswa mengabaikan pekerjaan rumah. Akan tetapi mengembangkan ilmu perilaku itu sulit karena perilaku itu kompleks dan bervariasi, perilaku adalah proses temporal, lentur, dan terus berubah. Tantangannya adalah menemukan urutan dan keseragaman dalam aliran perilaku dan situasi yang berbeda. Dasar pendekatan Skinner untuk tantangan ini adalah kajiannya tentang masalah teori dan keadaan internal sebagai dasar untuk riset perilaku dan pendekatannya untuk riset, analisis eksperimental perilaku.

         2. Komponen Pembelajaran.

    Analisis perilaku oleh Skinner dan karyanya tentang pembelajaran terprogram telah memberikan beberapa alat untuk manajemen ruang kelas dan perancangan pembelajaran. Konsep - konsep yang diperkenalkan oleh Skinner untuk dipertimbangkan dalam perencanaan ruang kelas antara lain :
    1. Stimuli diskriminatif (kejadian spesifik yang akan direspon oleh siswa)
    2. Kontigensi penguatan, termasuk mengatur siswa agar siswa mengalami kesuksesan, mempertimbangkan karakteristik siswa, dan membedakan antara perilaku yang diatur kontigensi dengan yang diatur peraturan.
    3. Dinamika ruang kelas, yang mencakup memperkuat aproksimasi suksesif, dan memperkuat perilaku yang mengganggu.