Sabtu, 13 April 2013

Pedagogi Wawancara


Nama : Mufti Fadhilah Siregar
NIM    : 101301004
M.K    : Pedagogi


BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita,ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Seorang anak yang disayangi akan menyayangi keluarganya sehingga anak akan merasakan bahwa anak dibutuhkan dalam keluarga. Sebab merasa keluarga sebagai sumber kekuatan yang membangunya.
      Dengan demikian akan timbul suatu situasi yang saling membantu, saling menghargai, yang sangat mendukung perkembangan anak. Di dalam keluarga yang memberi kesempatan maksimum pertumbuhan dan perkembangan adalah orang tua. Dalam lingkungan keluarga harga diri berkembang karena dihargai,diterima,dicintai,dan dihormati sebagai manusia. Orang tua mengajarkan kepada kita mulai sejak kecil untuk menghargai orang lain. Sedangkan di lingkungan sekolah yang menjadi pendidikan yang kedua dan apabila orang tua mempunyai cukup uang maka dapat melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi dan akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi kemudian menjadi seorang yang terdidik.
Alangkah pentingnya pendidikan itu. Guru sebagai media pendidik memberikan ilmunya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Peranan guru sebagai pendidik merupakan peran  memberi bantuan dan dorongan serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak  agar anak dapat mempunyai rasa tanggung jawab dengan apa yang dia lakukan. Guru juga harus berupaya agar pelajaran yang diberikan selalu cukup untuk menarik minat anak .Selain itu peranan lingkungan masyarakat juga penting bagi anak  didik. Hal ini berarti memberikan gambaran tentang bagaimana kita hidup bermasyarakat.Dengan demikian bila kita berinteraksi dengan masyarakat maka mereka akan menilai kita,bahwa  tahu mana orang yang terdidik dan  tidak terdidik. 


BAB II
HASIL WAWANCARA
 
Nama guru                 : Drs. Suherno
Tanggal wawancara    : 29 Maret 2013
Tempat wawancara     : SMA Yayasan Perguruan Keluarga Jln. Seram Atas Pematangsiantar
Waktu wawancara      : 10.00 – 11.00 WIB
Pengalaman mengajar  : 19 tahun hingga sekarang
Nama sekolah             : SMA Yayasan Perguruan Keluarga

Dari wawancara yang saya dapatkan dari guru SMA saya mengambil tema tentang bagaimana pandangan secara luas tentang ’’ Pendidikan dan cara mengajar ‘’ menurut Guru SMA saya. Berikut ini adalah hasil wawancara saya dengan Guru SMA saya :

Mufti           : Assalamualaikum wr.. wb..
Pak Herno  : Wa’alaikum salam wr..wb..
Mufti          : Apa kabar Pak?
Pak Herno : Alhamdullillah kabar baik.
Mufti       : Senang sekali bisa bertemu dengan Bapak pada kesempatan kali ini. Terima kasih Pak, atas   waktu yang telah Bapak berikan untuk wawancara kali ini.
Pak Herno : Iya sama- sama.
Mufti    : Jadi begini Pak saya mendapat tugas dari kampus untuk mewawancarai seorang guru. Nah saya memilih Bapak karena saya yakin Bapak bisa bekerja sama untuk membantu saya menyelesaikan tugas wawancara ini.
Pak Herno    : Iya mudah- mudahan.
Mufti            : Langsung saja ya Pak, kita ke pertanyaan nya. Menurut Bapak sebagai seorang guru, apa sih pentingnya pendidikan ?
Pak Herno  : Pendidikan adalah upaya sadar yang dilakukan secara terencana untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan kognisi, psikomotorik, dan afeksi siswa secara bersamaan. Dalam konteks ini ditemukan beberapa perbedaan antara pendidikan dan pengajaran, karena pengajaran lebih cenderung dimaknai sebagai upaya pengembangan kemampuan kognisi siswa.
Mufti           : Apa motivasi yang mendasari pandangan  Bapak terhadap pendidikan ?
Pak Herno : Tentunya ada 2 motivasi yang mendasarinya. Yang pertama adalah motivasi internal dan eksternal. Motivasi internal yang terbangun dalam diri saya berdasarkan upaya dan dukungan yang telah saya dapatkan berdasarkan ajaran agama yang saya peluk (Islam). Islam mengajarkan bahwa kecerdasan intelektual memang penting tetapi hal yang paling penting adalah bagaimana mensinergikan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial menjadi sebuah kekuatan untuk mewujudkan manusia yang paripurna.
Mufti          : Menurut Bapak apa perbedaan antara pengajaran dan pendidikan?
Pak Herno : Menurut saya, ‘’ Pengajaran lebih menekankan pada penguasaan wawasan dan pengetahuan tentang bidang atau program tertentu seperti pertanian, kesehatan, enginering dan lain-lain sedangkan Pendidikan lebih menekankan pada pembentukan manusia atau penanaman sikap dan nilai-nilai kehidupan dan budi pekerti luhur’’.
Mufti               : Apa tujuan Bapak mengajar  selama ini Pak ?
Pak Herno  : Sebagai upaya pengabdian pada dunia pendidikan, mentransformasikan tiap – tiap ilmu kepada anak – anak bangsa, menanamkan nilai – nilai kemanusiaan dan budi pekerti supaya anak didik tidak salah arah.
Mufti            : Bagaimana filosofi Bapak dalam mengajar ?
Pak Herno   : Filosofinya adalah ‘’ Teaching is my Life ‘’ mengajar adalah hidup saya dan mengajar adalah ibadah. Oleh karena itu saya akan terus mengajar dengan baik sehingga siswa dapat menjadi manusia terpelajar, beriman, dan berakhlak mulia.
Mufti            : Bagaimana upaya yang selama ini Bapak lakukan untuk mengajar peserta didik?
Pak Herno  : Tentunya dengan kesabaran, memberi pembinaan dan bimbingan serta mendorong peserta didik untuk lebih aktif lagi di kelas, menanamkan kepada mereka budi pekerti, nilai – nilai kehidupan, dan menciptakan kelas yang memberi inspirasi.
Mufti              : Menarik sekali. Bagaimana maksudnya menciptakan kelas yang memberi inspirasi Pak ?
Pak Herno      :  Caranya adalah dengan :   
Meminta siswa mengajarkan siswa lainnya sebagai bagian dari strategi belajar
Melatih siswa untuk berpendapat dengan jelas dan lancar, sebagai cara membuat siswa percaya diri di depan teman
Membiasakan siswa untuk bisa berpartisipasi dalam kelompok
Membuat kegiatan di kelas agar siswa bisa berpikir mandiri sekaligus menjadi pemecah masalah


Memberikan pekerjaan rumah yang berkualitas pada siswa, bukan yang sekedar membuat siswa pusing. Misalnya daripada meminta siswa mengerjakan soal pilihan ganda, lebih baik meminta siswa melakukan wawancara, memotret gambar lewat hp kemudian memberikan komentar dan banyak kegiatan lainnya yang membuat siswa tertantang. 
Mufti             :  Bagaimana strategi yang Bapak lakukan pada saat mengajar?
Pak Herno   : Kalau saya mengajar di kelas, tentunya dengan ceramah dan menjelaskan tapi supaya siswa tidak bosan tiap satu bulan kami selalu mengadakan belajar di luar kelas misalnya alam, museum, perpustakaan umum, dll dan sambil bermain juga. Tujuannya agar siswa tidak bosan belajar di kelas dan membangkitkan gairah siswa dalam merespon informasi – informasi dan pengetahuan yang baru. Karena saya sadar peserta didik bukanlah robot yang kaku, tapi mereka juga butuh kesegaran dan relaksasi untuk pikirannya.
Mufti               : Apa pendekatan yang Bapak gunakan dalam mengajar ?
Pak Herno   : Pertama, pengembangan bahan materi dengan cara ceramah, menilai dan pembentukan kepribadian siswa secra utuh. Kedua, dengan  menggunakan metode diantaranya :  
* Asas multimetode seperti media, dan sumber agar membina kemampuan belajar siswa yang   beraneka ragam.  
* Asas belajar siswa aktif dan kelompok, agar meningkatkan kadar proses belajar dan hasil belajar.  
* Asas mengajar reaktif dan interaktif, guru diminta selalu memantau dan memberikan aksi reaksi kegiatan siswanya agar terjalin hubungan antara guru dengan para siswa dan antar siswa serta antar bahan ajar satu dengan yang lainnya dan dengan realita kehidupan 
Mufti            : Apakah selama mengajar Bapak menemukan kesulitan Pak ? 
Pak Herno  : Kalau kesulitan saya itu dari peserta didik, dimana peserta didik kurang kemauan dan ketidakseriusan siswa dalam belajar. Terkadang hasil belajar dari siswa kurang maksimal. 
Mufti             : Bagaimana Bapak melihat peserta didik?
Pak Herno    : Peserta didik adalah  pribadi dengan karakter sikap yang berbeda – beda dengan potensi yang besar oleh karena itu seorang guru diharapkan dapat menjadi fasilitator yang handal dan baik bagi peserta didiknya.
Mufti          : Kalau dari perkembangan zaman sendiri Pak, apa – apa saja fasilitas yang bertambah dari sekolah kita Pak ?
Pak Herno     : Alhamdulillah sudah cukup memadai. Diantaranya untuk praktik ibadah, kita punya mushollah yang cukup bagus di dalam sekolah, Al qur’an terjemah dan tidak terjemah, bahan – bahan bacaan dari referensi yang terbaru, laboraturium bahasa Inggris dan bahasa Jepang, Laboraturium kimia dan  laboraturium biologi alat praktikum komputer, ruang seni dan teater, dan perpustakaan yang cukup baik dan tentunya dengan bantuan pemerintah.
Mufti          : Menurut Bapak seberapa pentingkah TIK di zaman modern seperti sekarang ini Pak ?
Pak Herno : Sangat penting karena TIK lah yang mempermudah orang banyak untuk bekerja dan beraktivitas. Kita akan merasa pusing bila satu hari tidak terhubung ke internet dan laptop. Aplikasi TIK sangat membantu kita dalam belajar. Sebagai media pendidikan komunikasi dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut.
Mufti       : Baiklah sekian dari wawancara kita Pak. Sekali lagi terima kasih untuk waktunya atas wawancara ini.


BAB III
PEMBAHASAN
  1.  Berdasarkan pandangan guru saya tentang pendidikan, Pendidikan adalah upaya sadar yang dilakukan secara terencana untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan kognisi, psikomotorik, dan afeksi siswa secara bersamaan itu sesuai dengan teori pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu  pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Didalam pedagogi, pendidikan adalah akar yang menopang seni dan ilmu mengajar. Dari situlah guru belajar untuk mendidik anak – anak sepaya menjadi manusia yang berbudi luhur dan berkepribadian sehat.
  2. Dari segi motivasi, beliau mengatakan ada dua motivasi yang mendorong beliau untuk mendasari pandangan pertama yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal.Menurut teori motivasi, motivasi adalah proses yang memberikan semangat, arah dan kegigihan untuk berprilaku. Dimana didalam teori motivasi ini juga dikatakan ada 2 motivasi yang membangun seseorang untuk lebih gigih dan kuat yaitu motivasi yang berasal dari dalam seperti dorongan dan kemauan dan motivasi dari luar seperti dukungan dll. 
  3.  Perbedaan antara pendidikan dan pengajaran itu sesuai dengan prinsip – prinsip pedagogi itu sendiri. Dimana ada kesatuan antara pendidikan dan pengajaran serta pengembangan proses  kerena didasarkan pada kesatuan dialektis antara pendidikan dan pengajaran yang harus terkait dengan kegiatan pembangunan pada umumnya.
  4. Tujuan mengajar yang dilakukan oleh guru saya sesuai dengan pedagogi yang bukan hanya membicarakan tentang ilmu dan mengajar, tetapi adalah ilmu untuk mentransformasikan ilmu, bukan sekedar bahan ajar ke murid – murid dan pedagogi juga mengajarkan seorang guru bagaimana membentuk kepribadian anak secara sehat.
  5. Filosofi guru saya dalam mengajar beliau  menggunakan prinsip nya sendiri yaitu  ‘’Teaching is My Life ‘’. Beliau berpendapat mengajar adalah hidup nya. Seseorang yang paham akan arti dari pedagogi tentu dia akan mampu membuat prinsip bagi anak didiknya. Dan menurut prinsip pedagogis, guru saya mengaitkan prinsip hunungan sekolah dan kehidupan didasarkan pada dua aspek penting yaitu antara kehidupan dan pekerjaan sebagai kegiatan yang mendidik manusia.
  6.   Upaya mengajar peserta didik itu terkait dengan pedagogi sebagai seni dan ilmu mengajar bagaimana seorang guru memberikan bantuan dan bimbingan. Siswa adalah subjek didik atau murid yaitu mereka yang menerima dan mengikuti disiplin yang ditentukan oleh guru untuk pengembangan pikirannya. Ini bukan berarti siswa harus tunduk dan pasif kepadaotoritas yang sewenwng – wenang dari gurunya. Siswa yang baik akan mengambil manfaat dari peran guru, sebagaimana anak – anak diasuh dan dibesarkan oleh orang tuanya sebagai sarana mencapai kematangan dan kemandirian. 
  7. Cara menciptakan kelas yang memberi inspirasi sesuai dengan buku Prof. Dr Suryawan Danim, dikatakan kegiatan mengajar yang memberi inspirasi adalah dimana siswa akan termotivasi belajar agar mereka dapat mandiri. Kegiatan mengajar seperti inilah yang akan menginspirasi dan menghipnotis siswa.
  8. Strategi yang dilakukan guru saya ketika mengajar sesuai dengan perspektif dan strategi dari paradigma belajar itu sendiri. Dimana defenisi ‘’ strategi’’ mengacu pada rencana dan serangkaian kegiatan yang digunakan untuk memfasilitasi jenis pembelajaran tertentu. Strategi sama artinya denga metode yang merujuk kepada pendekatan pembelajaran, seperti metode diskusi, ceramah dan metode penugasan. 
  9. Pendekatan yang digunakan dalam mengajar yang dilakukan guru saya adalah sama dengan metode yang telah dijelaskan dipoint atas tadi yaitu dengan ceramah, diskusi dll, namun jika pendekatan dijelaskan kembali pada subsistem seperti asas multimetode yang berhubungan dengan media, kemudian asas siswa aktif dalam kelompok, dan asas mengajar reaktif dan interaktif.
  10. Kesulitan yang dihadapi ketika mengajar erat kaitannya dengan pedagogi yang banyak dan beragam. Permasalahannya adalah dari peserta didik. Ada peserta didik yang serius dan ada peserta didik yang kurang serius. Misalnya pada saat menghadapi siswa yang kurang serius, guru harus sabar dan harus berbicara dengan sederhana, berpengatahuan luas, menginspirasi siwa agar dapat memahami, mengevaluasi dan menimbang. Dan seorang guru yang baik tidak harus memaksakan doktrin – doktrin bahwa siswa harus ini dan harus itu, melainkan mengajarkan siswa belajar  dan berpikir untuk dirinya sendiri.
  11. Bagaimana guru saya melihat peserta didiknya sesuai dengan pedagogi yang banyak dan beragam, dimana guru harus mampu apabila dihadapkan dengan siswa dengan karakter yang berbeda – beda. Mereka menerima kepuasan ketika menghadapi siswa yang baik, meski mereka belum tentu berprestasi dan sukses di masa depan. Guru harus menghargai perbedaan individu dan percaya semua siswa dapat belajar meskipun pada tingkat dan cara yang berbeda. Guru belajar mengenali gaya siswa dan berbagai cara belajar siswa yang berbeda serta mengakomodasi pebedaan di dalam diri individu atau kelompok siswa. Mereka juga memainkan peran sebagai fasilitator pembelajaran, memotivasi, melatih dan melakukan konseling pada siswa. Dan guru juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan beragam cara.
  12. Fasilitas dari sekolah itu erat kaitannya dengan pedagogi, TIK, dan Fenomena Kontemporer. Dimana TIK yang telah ada di sekolah selama ini sangat membantu siswa di dalam pembelajaran. Dengan adanya fasilitas seperti ruang praktikum lengkap dengan komputer, laptop, LCD proyektor mempermudah guru dalam mentransformasi bahan ajar tanpa harus menjelaskan secara manual. Hal ini membuktikan bahwa TIK sangat berguna bagi kegiatan belajar di sekolah. Begitu juga dengan fasilitas yang lain yang menjalankan fungsinya masing – masing.TIK di zaman moderenisasi menurut guru saya sama dengan point yang diatas, sama – sama mempermudah guru ataupun siswa dalam proses belajar. 
  13. TIK sesuai dengan fenomena kontemporer dimana telah memeberi warna dalam proses pembelajaran serta melahirkan pemikiran baru di bidang pedagogi. Kehadiran TIK di sekolah itu seperti alat teleskop dan mikroskop yang memungkinkan kegiatan belajar berakselerasi. Aneka ragam informasi begitu mudah diakses dan system komputasi makin mudah dan cepat dilakukan. Selain itu TIK berfungsi : Membantu pembuatan koneksi yang memungkinkan siswa untuk masuk dan menjelajahi lingkungan belajar yang baru, mengatasi hambatan dan jarak waktu. 
    Meningkatkan kesempatan belajar pagi para siswa dan menawarkan pengalaman virtual dan alat – alat yang menghemat waktu, sehingga memudahkan dalam belajar.   

 BAB IV
 KESIMPULAN


Dari wawancara  tanggal 29 Maret 2013 dengan Bapak Drs Suherno selaku guru SMA saya, saya menyimpulkan bahwa pedagogi tidak hanya  bicara mengenai ilmu dan seni mengajar, melainkan kesimpulan sebagai berikut :

    1. Didalam pedagogi, pendidikan adalah akar yang menopang seni dan ilmu mengajar. Dari situlah guru belajar untuk mendidik anak – anak sepaya menjadi manusia yang berbudi luhur dan berkepribadian sehat.
    2. Dari segi motivasi, beliau mengatakan ada dua motivasi yang mendorong beliau untuk mendasari pandangan pertama yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal.
    3. Perbedaan antara pendidikan dan pengajaran itu sesuai dengan prinsip – prinsip pedagogi itu sendiri, dimana ada kesatuan antara pendidikan dan pengajaran serta pengembangan proses  kerena didasarkan pada kesatuan dialektis antara pendidikan dan pengajaran.
    4. Tujuan mengajar bukan sekedar bahan ajar ke murid – murid dan pedagogi juga mengajarkan seorang guru bagaimana membentuk kepribadian anak secara sehat
    5. Kegiatan mengajar yang memberi inspirasi adalah dimana siswa akan termotivasi belajar agar mereka dapat mandiri.
    6. Strategi sama artinya denga metode yang merujuk kepada pendekatan pembelajaran, seperti metode diskusi, ceramah dan metode penugasan.
    7. Guru dalam melihat peserta didiknya harus mampu apabila dihadapkan dengan siswa dengan karakter yang berbeda – beda dan guru harus menghargai perbedaan individu dan percaya semua siswa dapat belajar meskipun pada tingkat dan cara yang berbeda.
    8. TIK sesuai dengan fenomena kontemporer dimana telah memeberi warna dalam proses pembelajaran serta melahirkan pemikiran baru di bidang pedagogi. Kehadiran TIK di sekolah itu seperti alat teleskop dan mikroskop yang memungkinkan kegiatan belajar berakselerasi.




    BAB VI
    TESTIMONI DAN SARAN


    a.      Testimoni
    Wawancara yang saya lakukan bertepatan dengan tugas observasi pada anak – anak. Sangat melelahkan tetapi ada kepuasan tersendiri yang saya dapat. Saya senang bertemu kembali dengan Pak Herno guru agama Islam. Beliau adalah sosok guru yang saya kagumi selama ini, di usia nya yang sudah tua beliau mampu bersabar dan memotivasi muridnya meskipun terkadang beliau sering kecewa dengan dirinya sendiri . Mengapa karena masih ada murid yang kurang serius meski telah dilakukan beberapa strategi dan pendekatan. Beliau mengajarkan saya untuk belajar tentang kesabaran dalam menghadapi tiap – tiap individu dengan karakter yang berbeda. Dia adalah guru yang peka terhadap apapun baik itu di kelas ataupun anak didik. Beliau adalah guru yang dekat dengan siswanya tanpa ada jarak, bisa menjadi teman ketika siswa ada masalah, selalu berbagi cerita yang membuat siswa selalu kagum padanya. Beliau juga sangat bersahaja, tutur katanya lembut, hangat, sabar, rendah hati inspirator, berwibawa dan satu hal yang paling penting dibalik keseriusannya beliau adalah guru yang humoris. Pada masa sekolah dulu, hampir semua anak mengidolakan guru seperti dirinya. Dia peka terhadap situasi dan keadaan. Dia selalu mengelola kelas dengan baik. Dia sangat tahu kebutuhan akan siswanya, bila ia melihat siswa sedang lelah, cemberut atau bersedih ia selalu berusaha mendekatkan diri untuk jadi sahabat yang berarti bagi murid – muridnya. Itulah sosok guru yang sampai sekarang selalu saya banggakan.

    b.      Saran
    Sejauh ini tidak ada saran menurut saya. Hanya saja semoga nantinya saya ataupun kita semua bisa belajar untuk peka dan bersabar menghadapi siapapun orang yang dihadapkan dengan kita. Dan saya sangat bersyukur dengan adanya mata kuliah pedagogi ini membantu saya menggali informasi – informasi yang ada di sekolah saya dan membuat saya belajar bahwa pedagogi bukan hanya seni dan ilmu mengajar, akan tetapi kesabaran pada saat menghadapi tantangan seperti yang telah saya lakukan baik wawancara guru dan observasi.


     
































    BAB VI
    DAFTAR PUSTAKA

    ( Santrock, J.W& Halonen, J.S (2002).Educational Psychology )
    Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi, Bandung: Alfabeta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar